Perjalanan 10 Pendaki ke Puncak Pangrango
Setelah hampir satu tahun klub ini tidak diisi dengan kegiatan pendakian, akhirnya di akhir mid semester ini, Diver VenTure kembali mengadakan ekspedisi. Di awal rencana keberangkatan, dijadwalkan akan mengadakan 2 ekspedisi ke Gn.Gede dan Gn.Pangrango. Namun akhirnya, hanya Gn.Pangrango yang berhasil ditelusuri.
Hari itu Jumat, 13 April 2007. Setelah lelah menghadapi mid semester kali ini, semangat baru pun muncul karena akan dilaksanakannya ekspedisi 2 gunung. Sore itu kira - kira pk 17.00. Hampir sebagian besar peserta telah berkumpul didepan blok C, namun karena satu dan lain hal yang kurang disiapkan. Akhirnya semua baru bisa siap kurang lebih pk 18.00. Setelah melakukan registrasi terakhir, kami semua segera bergegas menuju bus angkatan laut yang telah menunggu di gerbang dormitory kami. Namun perjalanan kembali tertunda karena para peserta yang mayoritas beragama muslim, dipersilahkan untuk mengadakan shalat magrib. Akhirnya bus melaju ke daerah Cibodas pada pukul 19.00.
Malam itu ± 20.30. Bus kami memasuki sebuah areal pom bensin untuk memberikan kesempatan bagi yang mau beristirahat sejenak dan membeli cemilan. Setelah selesai, pejalanan pun dilanjutkan. Akhirnya bus kami tiba di kaki Gn.Gede dan Pangrango ± pk.21.49. Setelah menurunkan barang masing – masing, semua peserta dibagi berdasarkan angkatannya untuk memudahkan persiapan dan pengecekan. Ketika itu, Macin, Edwin, dan xxx diperintahkan untuk mengurus ijin di kantor perijinan. Karena sesuai yang dijanjikan ketika mem-booking, mereka akan menunggu sampai pk.21.00. Walau ketika itu kami sudah telah 49 menit. Sesampainya di kantor perijinan, hal yang tidak diharapkan terjadi. KANTOR TUTUP!!! Kami bertiga berargumen kecil dengan para penjaga. Namun, pada dasarnya kesalahan berada di sisi kami yang tidak mengetahui nama dari yang membuat janji dan datang terlambat. Akhirnya, Macin dan Edwin pun turun untuk melaporkan ke bang Ebonk. Setelah melapor ke bang Ebonk, kami semua sepakat untuk tetap naik terlebih dahulu menuju ke kantor perijinan. Di kantor perijinan, bank Ebonk kembali berargumen. Namun hasilnya tetap TIDAK DIIJINKAN PENDAKIAN, dan harus menunggu sampai besok pagi..
Ide nakal pun terlintas di benak Kiki, Ebonk, dan Macin. Kami berpikir untuk melakukan pendakian gelap dengan membuat surat palsu namun asli.. (Lho??? Bingung ya???). Kami bertiga bergegas menuju ke markas Green Ranger yang terletak ± 50 meter dari kantor perijinan. Dan ternyata mereka bisa membantu untuk membuat ijin asli tapi palsu itu. Karena mereka telah memiliki form nya dan tinggal diisi sedemikian persis. Pendakian pun tetap dilaksanakan walau harga yang seharusnya Rp 7.500,00/orang melambung menjadi Rp 12.000,00/orang.
Pagi itu, Sabtu, 18 April 2007. ± pk 00.30. kami semua segera menuju ke pos ranger yang berada di kaki gunung untuk registrasi. Setelah melakukan registrasi, ± pk 01.00 kami memulai pendakian. Pada awalnya kami berjalan dalam kelompok kecil yang dibagi berdasarkan angkatan kami di DV, namun akhirnya semua itu menjadi satu karena banyak yang kelelahan dan ngedrop. Dalam perjalanan itu, korban terparah yang Nge-Drop adalah JOJO. Jojo mengalami asma, keadaan itu menjadi semakin parah. Sehingga kelompokpun terpaksa dibagi menjadi 2 bagian. Setelah berjalan ± 5 jam non-stop. Kami semua memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah tanah lapang yang sangat kecil sembari menunggu kedatangan kelompok kedua. Banyak yang tidur, ada yang merokok, ada pula yang minum kopi. Hal yang lucu pada saat itu adalah, terdapat beberapa anak DV yang sejak awal tidak merokok akhirnya menjadi merokok karena sudah minta ijin terlebih dahulu. Dan pastinya hanya untuk pendakian tersebut. Akhirnya kelompok kedua bergabung kembali ± 07.35. Kelompok pun akhirnya kembali terbagi menjadi 2, karena ada 11 orang dari total 42 pendaki yang memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju ke kandang badak untuk membangun tenda. Akhirnya 11 pendaki tersebut berangkat ± 07.45 menuju ke kandang badak, setelah berjalan 45 menit, kami tiba di mata air panas. Di mata air panas ini, kami ber-11 beristirahat sebentar, mencuci muka dan pastinya BERFOTO-FOTO. Setelah selesai membershikan diri, kami melanjutkan perjalanan menuju ke kandang badak. Dan akhirnya kami tiba di kandang badak pada pukul 10.00. Dengan segera kami membangun, tenda agar gelombang kedua yang tiba dapat langsung beristirahat ketika mereka tiba di kandang. Hanya berselang 30 menit, kelompok kedua pun tiba. Namun hal yang tidak disangka – sangka terjadi. Hujan deras turun menaungi kandang badak. Sebagian bertahan di tenda, namun sebagian bertahan di kandang badak, walau sebagian besar atapnya telah bocor. Hujan pun sempat mereda namun akhirnya kembali besar. Dan akhirnya berhenti pada pukul 11.30. Dengan segera, kami menyantap makan siang seadanya, sembari menyiapkan diri untuk melakukan pendakian.
Siang itu pk.13.00. Kurang lebih ada 25 orang yang bersiap untuk melakukan pendakian ke puncak Pangrango. Setelah bersiap dengan tas backpack masing – masing yang berisikan perlengkapan pribadi, kami berkumpul di depan tenda untuk melakukan pembagian kelompok. Pendakian pun dimulai.
Track yang kami lalui untuk menuju ke puncak Pangrango pada dasarnya dapat dikatakan tidak terlalu sulit. Hanya saja memeras tenaga jika baru saja pertama kali melaksanakan pendakian. Namun, sore itu hal yang tidak pernah disangka terjadi. Ketika itu ± pk 16.45 terjadi sebuah kecelakaan dimana jari tangan salah satu saudara kami Apo bergeser karena terjatuh ketika akan menaiki satu buah tanjakan yang akan memulai tanjakan – tanjakan terakhir untuk menuju ke puncak Pangrango. Setelah kejadian itu, kami semua sepakat untuk kembali ke base camp kami di kandang badak. Namun, kelompok kembali terbagi menjadi 2. Kelompok pertama berjumlah 15 orang dan kelompok kedua berjumlah 10 orang. Ketika kelompok pertama sudah mulai turun, kelompok kedua berpikir hal apa yang ingin dilakukan. Apakah turun kembali ke base camp??? Atau tetap melakukan pendakian. Dan disepakati bahwa kami ber-sepuluh kembali melakukan pendakian. Pendakianpun berlanjut dan kami berangkat menuju puncak ± 17.30 dari tempat terjatuhnya Apo. Dan akhirnya tiba di puncak Pangrango ± 18.30 setelah melewati track yang menantang nyali dan fisik.
Namun ketika kami ber-sepuluh tiba di puncak, hipotermia mulai menyerang kami karena baju kami basah terkena hujan. Dan semua pendaki itu hanya mengenakan celana pendek, sandal jepit, dan baju seadanya. Kami sepakat untuk makan sejenak sembari menghangatkan tubuh kami di depan paraffin yang dibakar. Setelah menghangatkan tubuh, berfoto – foto dan mengisi perut, akhirnya kami setuju untuk turun ke base camp, mengingat angin gunung yang semakin kencang, dan kondisi tubuh beberapa saudara yang mulai turun.
Dalam perjalanan kami kembali menuju ke base camp, hujan lebat, angin gunung, dan kabut menemani kami yang pastinya semakin membuat kondisi beberapa saudara menjadi lemah. Namun banyak pula kejadian aneh yang menemani kami ketika kami turun. Awalnya, kami mulai berpikir bahwa jalan menuju kebawah menjadi semakin panjang jika dibandingkan dengan perjalanan kami menuju puncak. Dan banyak tempat yang kami lalui sebelumnya, tidak kami lewati ketika pulang. Malam itu kira – kira pk 21.00, kami ber-sepuluh memutuskan untuk break sejenak dan membuat api dari paraffin mengingat banyak saudara kami yang menderita hipotermia. Dan disitulah segala macam keanehan berlanjut. tanpa disadari ketika kami melanjutkan perjalanan, kelompok kami terbagi menjadi 2. Kelompok pertama terdiri dari Ebonk PR, Rico Acc, Tama HTM, dan Kiki. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari Macin BF, Riko BF, Faza IT, Arie IE, Niki Acc,dan Ichal IB. Diluar dari jangkauan kami, kelompok pertama jalan sangat cepat sekali meninggalkan kelompok kedua. Dan ketika itu, baterai senter kelompok kedua mulai habis. Saat baterai itu benar – benar habis kami pun berteriak meminta bantuan. Dan akhirnya Kiki naik kembali menghampiri kelompok kami memberikan baterai cadangan yang dimilikinya. Namun, kelompok kami semakin jauh tertinggal. Keanehan pertama setelah break yang terjadi adalah pertama kali kami mendengar suara bang Ebonk memanggil suara itu ada disebelah kanan. Namun, ketika suara itu kembali memanggil, letaknya berubah menjadi di bawah kiri kami. Selain itu banyak dari saudara – saudara kami yang mulai berhalusinasi seperti melihat bangunan megah di sisi kanan yang terang benderang namun setinggi gunung, melihat banyak tenda, melihat mobil, dan melihat banyak orang. Kami ber-enam tetap mengikuti asal suara itu. Sampai akhirnya kami stuck karena ada cabang dimana jika kami turun., kami seperti melewati bekas sungai yang sudah kering. Namun suara itu kembali memanggil dari bawah. Dan kami pun mengikutinya. Lagi – lagi kami dibuat bingung, ketika itu kami melihat bahwa ada sebuah pohon besar tumbang di tengah – tengah “sungai” kering itu dan terdapat banyak ranting yang jatuh. Kami kembali berteriak dan suara bang Ebonk kembali memanggil dari bawah. Karena percaya, kami pun kembali turun. Keanehan selanjutnya adalah, ketika itu suara bang Ebonk tepat berada disebelah kiri kami yang hanya dibatasi oleh pohon. Dan kami pun disenteri olehnya. Namun, ketika kami menghampirinya, suara itu telah jauh berada di atas. Kami pun semakin bingung apalagi Riko mulai sakit. Tetapi, kami ber-enam sepakat untuk terus melanjutkan perjalanan menyusuri “sungai” itu. Akhirnya kami sampai disebuah kondisi ketika kami merasa bahwa kami selalu berputar – putar di tempat yang sama. Kami pun memutuskan untuk berisitirahat. Hal yang aneh kembali terjadi. Tanpa terasa, ketika macin melihat jam-nya waktu sudah menujukkan pukul 00.00. Ternyata kami sudah berjalan selama 3 jam tanpa henti dan tanpa menemukan titik pulang. Pada saat itu, dari kami ber-enam, 3 saudara kami sudah drop. Riko menjadi sakit, Arie kakinya terluka, dan Faza Menggigil. Jadi yang tersisa hanya Bang Ichal, Macin, dan Niki. Kami bertiga berusaha berpikir positif dan berbincang – bincang. Kami bertiga sepakat pula untuk membangunkan 3 teman kami yang sedang beristirahat pada pukul 01.00 untuk membicarakan langkah selanjutnya. Di tengah perbincangan kami, kami melihat sinar senter dari arah depan kami. Awalnya kami berpikir bahwa itu adalah bang Ebonk dkk. Namun ketika sinar itu semakin dekat, kami menyadari bahwa itu bukan bang Ebonk dkk, melainkan pendaki lain yang kami yakini bukan pendaki sesungguhnya melainkan arwah dari pendaki yang telah meninggal di Gn.Gede dan Pangrango. Dan ketika mereka semakin dekat. Kami bertanya dimanakah ujung dari jalan ini??? Mereka mengatakan bahwa ujung dari jalan ini adalah Kandang Badak. Secara spontan, semangat kami pun kembali muncul untuk segera melanjutkan perjalanan menuju base camp.
Dengan segera, kami bertiga membangunkan ketiga teman kami yang sedang beristirahat, dan kali ini kami berjalan bukan sendiri – sendiri melainkan berdua – berdua. Kami pun berjalan menyusuri “sungai” itu, namun kami kembali bingung karena sepertinya jalan yang kami lewati bukanlah menuju Kandang Badak. Akhirnya kami melihat bang Zuhdan dan bang Aris di depan kami beserta yang lain yang sedang mencari kami. Dan akhirnya kami ber-enam tiba di base camp dengan selamat.
Sesampainya di base camp, Macin dan Niki bertanya, apa maksud dari bang Ebonk memerintahkan kami untuk melewati “sungai” kering itu. Namun, bang Ebonk menjadi bingung, karena ia tidak pernah mengatakan apa – apa. Bang Ebonk bertambah bingung karena dari tadi ia sudah berusaha memanggil kami, tapi tidak pernah mendapatkan jawaban. Sedangkan dari sisi kelompok kami, kami selalu memanggil bang Ebonk, dan bang Ebonk selalu memerintahkan kami untuk menyusuri jalan itu. Akhirnya pada pukul 03.30 kami pun beristirahat karena lelah. Namun ketika itu, bang Ebonk sempat terbangun dan melihat bahwa ada pendaki lain yang sedang mengamati kami semua dari tenda merah dan orange. Dan semakin lama semakin banyak, sedangkan wajah – wajah kami semua yang sedang duduk mengelilingi paraffin dan api menjadi gelap.
Hari sudah berubah menjadi Minggu, 15 April 2007. Pagi itu kira – kira pukul 08.00. Kami semua dibangunkan karena harus packing untuk persiapan kembali ke bawah. Setelah siap semua, kami semua berjalan menuju ke bawah pada pk.10.00. Kami pun tiba di pos pertama pada pk 16.00. Setelah makan dan menunggu kedatangan teman – teman yang lain akhirnya kami kembali ke Jakarta pada pukul 18.00 dan tiba di depan dormitory pada pukul 22.00. Pendakian pun berakhir dengan segala macam pengalaman yang seru dan menarik. Semoga kesalahan – kesalahan yang pernah dilakukan tidak akan diulangi lagi.
Blog ini ditujukan bagi arwah para pendaki yang meninggal di Gn.Gede dan Gn.Pangrango.
Piz,
Macin#5
Rainbow Warriors
MoCuishle

Recent Comments